Posts

Ibadah Qurban: Upaya Menginsankan Manusia

Maha besar Allah  yang telah melimpahkan nikmat hidup kepada kita, sehingga di kesempatan  pagi yang segar dan indah ini, kita dapat mempertautkan kembali hati kita sesama muslim saat beribadah shalat Idul Adha bersama-sama. Allah yang maha Agung, tiada pernah meninggalkan seditik pun mengasihi makhluk-Nya di jagat raya ini. Kegagahan dan keperkasaan-Nya yang tiada banding melunturkan pribadi-pribadi yang hendak menyaingi-Nya. Sungguh sangat kecil dan lemahlah kita jika mengingat dan merenungi hakikat kemanusiaan yang kita sandang. Teriring shalawat dan salam semoga tetap dicurahkan kepada junjungan kita, nabi akhir zaman, penyempurna ajaran para rasul, nabi Muhammad saw, yang telah sukses menghantarkan kita ke pintu gerbang kemerdekaan yang hakiki, lahir dan batin. Kegigihan dan kejujuran sikapnya, kesederhanaan dan kebersahajaan pola hidupnya, serta kemuliaan dan keagungan akhlaknya, mampu menebas kejahilan dan kemerosotan moral yang merendahkan martabat umat manusi...

Ibu

Ibu… Bolehkah kulukis wajahmu di atas serpihan rindu? Wajah yang telah membesarkan hatiku Dengan bait-bait doa dan senyum syahdu Ijinkan kudekap sosok cintamu di sepajang jalanan hidupku Cinta yang telah menghantarku pd lorong pendewasaan waktu Biarkan ku pahat beku jiwaku dengan potret sayangmu Yang tak pernah jenuh memanjakanku Ibu… Ketabahan yang kau pendam diantara tumpukan kasih sayang Membuka mata akan makna doa yang tak pernah jeda Menguak tabir cinta yang lama terpenjara Memaksaku bersuara, “O, betapa aku t’lah berdosa!!!” Kesabaran yang kau suguhkan Menyulut bara semangat di setiap peredaran darahku Tak pernah hilang, menjelma di tiap rongga-rongga nafasku Bayangmu kusimpan di ruang hati yang terdalam Tuk mengupas sisa-sisa rinduku Ibu… Kini kubersimpuh di bawah kesakralan titahmu Menanti percikan doa restu Memburu surga di telapak kakimu Agar kau dendangkan tembang-tembang lagu Yang menghantarku ke pangkuan cintamu Agar kau ul...

Seberkas Sinar Bunda

Kasih Ibu kepada Beta tak terhingga sepanjang masa Hanya memberi tak harap kembali  Bagai Sang Surya menyinari dunia Sungguh sederhana sekali lirik lagu anak-anak diatas, ia begitu ringan , lugas namum serat makna. Betapa tidak? Kasih sayang seorang Ibu diibaratkan dengan pancaran sinar sang surya  yang selalu memberikan sinarnya pada dunia tanpa putus, padam atau bahkan meredup. Mentari selalu bersinar walau dunia begitu bingar. Demikian juga kasih sayang seorang Ibu, Mama, Bunda, Ummi, Mami, Emak, (atau apa saja kita menyebutnya)  kepada anaknya. Tak pernah putus diterjang masa, tak akan lenggang ditelan waktu. Ia begitu berharga dan begitu  berarti bagi kita. Terlepas dari historis-nya. Hari Ibu yang jatuh tepat pada hari ini, 22 Desember 2006 , konon Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu dan dirayakan secara Nasional, hari ini adalah merupakan hari yang seyogyanya...

Perempuan

(Catatan khusus untuk Laki-laki)   Dialah yg diambil dari tulang rusuk. Jika Tuhan mempersatukan dua orang yang berlawanan sifatnya, maka itu akan jadi satu kesatuan yg saling melengkapi. Dialah penolongmu yang sepadan, bukan sparing partner yang sepadan. Ketika “pertandingan” dimulai, dia tidak akan berhadapan denganmu untuk melawanmu, tetapi dia akan berada di barisanmu untuk berjaga-jaga di belakang saat engkau berada di depan atau segera mengembalikan bola ketika bola itu terlewatkan olehmu, dialah yang akan menutupi kekuranganmu. Dia ada untuk melengkapi yang tak ada dalam diri laki-laki: perasaan, emosi, kelemah-lembutan,keluwesan, keindahan, kecantikan, rahim untuk bisa melahirkan, mengurusi hal-hal sepele...hingga ketika laki-laki tidak mengerti hal-hal itu, dialah yg kan menyelesaikan bagiannya sehingga tanpa kau sadari ketika kau menjalankan sisa hidupmu... kau menjadi lebih kuat karena kehadirannya disisimu. Jika ada makhluk lain yang sangat bertolak belakang, ...

Cinta dan Terima Kasih

     Buku bersampul biru lux itu cukup menarik perhatian saya ketika saya menjadi penjaga toko buku “Republika” di expo bazar buku terbesar di Unibraw Malang, beberapa bulan yang lalu. Tidak sengaja awalnya. Hari Sabtu adalah hari libur kuliah dan mengajar. Dan hari itu, saya diminta oleh seorang sahabat saya untuk menemaninya untuk menjaga toko buku disana. Buku dengan cover warna biru yang menentramkan itu saya ambil. Lalu saya buka. Saya baca sekilas. Lembar demi lembar saya buka. Perhatian saya lebih tertuju pada gambar-gambar yang dicetak dengan cetakan kualitas tinggi sehingga membuat mata saya tidak bosan untuk mengamati satu demi satu gambar-gambar tersebut. Mata saya tertegun. Hati saya terdiam. Dua gambar yang ada di hadapan sayalah yang menjadi penyebabnya. Gambar itu begitu indah. Menawan. Konfigurasi gambar kristal putih yang tercetak pada lembaran halaman buku tersebut menyajikan suatu bentuk yang eksotis. Mau tahukah teman, gambar apa itu? Kedua gambar ...

Yang Sempurna yang Terpilih

     Masih ingatkah di zaman dulu ketika mengaji di kampung? Pak Ustadz akan mengizinkan para santri pulang ke rumah setelah kita menghapal salah satu surah pendek yang sudah ditentukan satu hari sebelumnya. Siapa yang sudah menghapal dipersilahkan maju untuk diuji. Lancar dan bagus bacaannya, boleh pulang. Jika terbata-bata, silahkan duduk dan pelajari lagi sambil menunggu giliran berikutnya. Bagi yg tidak/belum hapal, harap pasrah pulang paling akhir plus dengan sedikit ‘omelan’ dari Pak Ustadz. Setiap kali seorang santri tengah diuji hapalannya, santri yang lain komat-kamit menghapal, sementara santri yang lainnya memperhatikan bacaan santri yg sedang diuji sambil berdebar-debar menunggu giliran. Santri yang sudah teruji dengan baik, tidak jarang menjadi contoh dan dipuji Pak Ustadz. Bangga, tentu saja lantaran hari itu ia menjadi yang pertama mampu melewati ujian. Seorang teman satu sepengajian pernah mengisahkan kegembiraannya setelah terpilih mewakili pengajian ...

Keinginan

Menurut Schopenhauer, seorang filsuf asal Jerman, keinginan adalah sumber penderitaan manusia. Sebab keinginan manusia tidak terbatas. Seseorang boleh memiliki keinginan apa saja; ingin punya mobil, istri cantik, suami yang tampan, jabatan tinggi, pendek kata apapun bisa kita inginkan. Akan tetapi, tidak semua keinginan itu bisa terpenuhi. Dari sanalah penderitaan berawal. Pendapat tersebut ada benarnya, walau tidak benar seratus persen benar. Tidak jarang kita memang dibikin susah oleh keinginan-keinginan kita sendiri. Lantas, apakah kita tidak usah punya keinginan saja? Tidak! Tanpa keinginan kita juga akan seperti layangan putus, terombang-ambing ditiup oleh si angin. Bayangkan kalau kita bepergian tanpa tujuan; kita akan luntang-luntung tidak tentu arah, dan akan kehilangan daya juang pula dalam menghadapi tantangan. Hidup tanpa keinginan juga seperti itu; tidak punya visi, tidak ada motivasi. Kita akan bingung, terutama bila berhadapan dengan rupa-rupa pilihan dan tawaran....